Translate This Page

Kitab Tentang Iman | Bab 9: Tanda iman antara lain mencintai kaum Anshar

Tanda iman antara lain mencintai kaum Anshar

17. Diriwayatkan dari Anas r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Tanda iman adalah mencintai orang-orang Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci orang-orang Anshar.”

18. Diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Ashshamit r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda ketika sedang dikerumuni oleh para sahabat beliau: “Berbaiatlah! Ucapkan janji setia kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak berkata dusta/memfitnah, dan tidak berhenti menganjurkan kebaikan. Barangsiapa di antara kalian memenuhi janjinya dalam hal tersebut, maka Allah-lah yang menanggung pahalanya, dan barangsiapa berdosa (melanggar janji tersebut), lalu dia disiksa di dunia, maka siksanya itu sebagai pelebur dosanya, dan barangsiapa berdosa (dengan melanggar janji tersebut), kemudian Allah menutupi dosanya di dunia, maka kelak di akhirat terserah kepada Allah. Jika Allah mau, maka Allah akan memaafkannya dan jika Allah mau, maka Allah akan meyiksanya”. Kata ‘Ubadah: Maka kami pun membaiat rasulullah Saw. dalam hal tersebut.”

Baca juga bab-bab lainnya dari kitab tentang iman: klik di sini

sumber: RINGKASAN HADIS SHAHIH AL-BUKHARI disusun oleh Imam Az-Zabidi - Pustaka Amani

Kitab Tentang Iman | Bab 8: Nikmatnya iman

Nikmatnya iman

16. Diriwayatkan dari Anas r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Ada tiga hal yang barangsiapa mencapainya, maka dia akan merasakan nikmatnya iman: 1. Allah dan Rasul-Nya dicintai olehnya melebihi segala-galanya 2. Mencintai orang lain hanya karena Allah 3. Membenci kekafiran sebagaimana kebenciannya dimasukkan api neraka.”

Baca juga bab-bab lainnya dari kitab tentang iman: klik d sini

sumber: RINGKASAN HADIS SHAHIH AL-BUKHARI disusun oleh Imam Az-Zabidi - Pustaka Amani

Kitab Tentang Iman | Bab 7: Mencintai Rasulullah Saw. adalah bagian dari iman

Mencintai Rasulullah Saw. adalah bagian dari iman

14. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Demi Allah yang menguasai diriku! seseorang di antara kalian tidak dianggap beriman kecuali jika aku lebih dicintai olehnya daripada orang tua dan anaknya sendiri.”

15. Diriwayatkan dari Anas r.a.,...(sama dengan hadits sebelumnya dengan tambahan di bagian akhir sebagai berikut): “...serta semua umat manusia.”

Baca juga bab-bab lainnya dari kitab tentang iman: klik di sini

sumber: RINGKASAN HADIS SHAHIH AL-BUKHARI disusun oleh Imam Az-Zabidi - Pustaka Amani

Kiab Tentang Iman | Bab 6: Di antara keimanan adalah menyayangi mukmin lain seperti menyayangi diri sendiri

Menyayangi mukmin lain seperti menyayangi diri sendiri

13. Diriwayatkan dari Anas r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Demi Allah yang menguasai diriku! seseorang di antara kalian tidak dianggap beriman kecuali jika dia menyayangi dirinya sendiri.”

Baca juga bab-bab lainnya dari kitab tentang iman: klik di sini

sumber: RINGKASAN HADIS SHAHIH AL-BUKHARI disusun oleh Imam Az-Zabidi - Pustaka Amani

Kitab Tentang Iman | Bab 5: Memberi makan orang lain adalah bagian dari Islam

Memberi makan orang lain adalah bagian dari Islam 


12. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru r.a. bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw.: Bagaimana menjadi muslim yang baik?” Rasulullah Saw. menjawab: “Berikan makanan pada orang lain, ucapankan salam (berikan kedamaian) kepada orang yang kau kenal dan yang tidak kau kenal.”

Baca juga bab-bab lainnya dari kitab tentang iman: klik di sini

sumber: RINGKASAN HADIS SHAHIH AL-BUKHARI disusun oleh Imam Az-Zabidi - Pustaka Amani

Kitab Tentang Iman | Bab 4: Siapa muslim yang terbaik

Siapa muslim yang terbaik

11. Diriwaytkan dari Abu Musra r.a., dia berkata: Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah! Siapa muslim yang terbaik?” Beliau menjawab, “Muslim yang lidah dan tangannya tidak menyakiti muslim lain.”
Baca juga bab-bab lainnya dari kitab tentang iman: klik di sini

sumber: RINGKASAN HADIS SHAHIH AL-BUKHARI disusun oleh Imam Az-Zabidi - Pustaka Amani

Kitab Tentang Iman | Bab 3: Seorang muslim adalah orang yang lidah dan tangannya tidak menyakiti muslim lain

Seorang muslim adalah orang yang lidah dan tangannya tidak menyakiti muslim lain


10. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang lidah dan tangannya tidak menyakiti muslim lain, dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan semua larangan Allah.”

Baca juga bab-bab lainnya dari kitab tentang iman : klik di sini

sumber: RINGKASAN HADIS SHAHIH AL-BUKHARI disusun oleh Imam Az-Zabidi - Pustaka Amani

Kitab Tentang Iman | Bab 2: Perihal iman

Perihal iman

9. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Iman itu bercabang menjadi enam puluh lebih, dan rasa malu (untuk berbuat maksiat) adalah satu cabang iman.” 

Baca juga bab-bab lainnya dari kitab tentang iman: klik di sini

sumber: RINGKASAN HADIS SHAHIH AL-BUKHARI disusun oleh Imam Az-Zabidi - Pustaka Amani 

Kitab Tentang Iman | Bab 1: Sabda Nabi Saw.: “Islam ditegakkan di atas lima pondasi”

Islam Ditegakkan Di Atas 5 Pondasi

8. Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., dia berkata: Rasulullah Saw. Pernah bersabda, “Islam ditegakkan d atas lima pondas: 1) Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bersaksi Muhammad adalah utusan Allah. 2) Mendirikan Shalat. 3) Menunaikan zakat. 4) Berhaji. 5) Berpuasa pada bulan Ramadhan.”

Baca juga bab-bab lainnya dari kitab tentang iman: klik di sini

sumber: RINGKASAN HADIS SHAHIH AL-BUKHARI disusun oleh Imam Az-Zabidi - Pustaka Amani

Kitab Tentang Permulaan Turunnya Wahyu Kepada Rasulullah Saw. | Bagian 3

Baca Sebelumnya (Bagian 2)


7.   Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Abu Sufyan bin Harb pernah memberitahukan kepadanya bahwa Heraclius pernah mengirim utusan kepadanya ketika dia memimpin suatu kafilah suku Quraisy. Ketika itu mereka berniaga di Syam pada saat gencatan senjata antara Rasulullah Saw. dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Abu Sufyan dan rombongannya menemui Heraclius ketika mereka berada  di Ilya (Yerusalem). Heraclius yang didampingi oleh para pembesar Romawi memanggil Abu Sufyan dan rombongannya melalui  seorang penerjemah. Heraclius bertanya “Siapa di antara kalian yang paling dekat hubungan kerabatnya dengan orang yang mengaku dirinya nabi itu?” 2  Abu Sufyan menjawab: “Saya”. Kata Heraclius: “Suruh dia mendekat kemari dan suruh teman-temannya berada di belakangnya”. Kata Heraclius kepada penerjemahnya: “Katakan kepada mereka bahwa aku akan bertanya mengenai orang yang mengaku menjadi nabi itu  dan jika dia (Abu Sufyan) berdusta, katakan bahwa dia (Abu Sufyan) berdusta”. Kata Abu Sufyan: “Demi Allah! Jika ketika itu saya tidak merasa malu dan takut dituduh bohong oleh teman-teman saya, niscaya saya akan memberikan jawaban dusta kepada Heraclius tentang Nabi. Pertanyaan pertama yang ditanyakan Heraclius kepada saya adalah, ‘Bagaimana nenek moyang laki-laki yang mengaku menjadi nabi itu?’ Saya menjawab, ‘Dia keturunan orang-orang terhormat’.’ Tanya Heraclius selanjutnya, ‘apakah ada orang lain sebelum dia dari sukumu yang mengaku menjadi nabi?’ Saya menjawab, ‘Tidak ada’. Heraclius bertanya lagi, ‘Apakah nenek moyangnya ada yang menjadi raja?’ Saya menjawab, ‘Tidak ada’. Tanya Heraclius selanjutnya, ‘Apakah pengikutnya kaum bangsawan ataukah rakyat biasa?’ Saya menjawab, ‘Rakyat biasa’. Tanya Heraclius lagi, ‘Pengikutnya terus bertambah ataukah berkurang?’ Saya menjawab, ‘Terus bertambah’. Heraclius bertanya lagi, ‘Apakah ada salah seorang pengikutnya yang keluar dari agamanya karena tidak suka setelah memeluknya?’ Saya menjawab, ‘Tidak ada’, Heraclius bertanya lagi, ‘Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengaku menjadi nabi?’ Saya menjawab, ‘Tidak pernah’. Tanya Heraclius selanjutnya, ‘Pernahkah dia ingkar janji?’ Saya menjawab, ‘Tidak pernah’. Sekarang ini kami sedang mengadakan gencatan senjata dengannya kami tidak tahu apa yang akan dia perbuat dalam gencatan senjata ini’. Kata Abu Sufyan: “Tidak saya temukan satu katapun untuk menyangkal Heraclius kecuali kata yang terakhir tadi”. Heraclius bertanya lagi, ‘Apakah kalian pernah berperang dengannya?’ Saya menjawab, ‘Pernah’. Tanya Heraclius lagi, ‘Bagaimana peperangan tersebut?’ Saya menjawab, ‘Dia pernah menang dan kami juga pernah menang’. Heraclius bertanya lagi, ‘Apa yang dia serukan kepada kalian?’ Saya menjawab, ‘Dia menyeru kami menyembah Allah satu-satu-Nya tanpa mempersekutukan sesuatu dengan-nya dan menyeru kami meninggalkan meninggalkan tuhan-tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami. Dia juga menyuruh kami mengerjakan sholat, berkata dan berlaku jujur, menjaga kesucian diri dan menyambung sanak famili’. Kata Heraclius kepada penerjemahnya: “Katakan kepadanya (Abu Sufyan), ‘Aku tanyakan kepadamu tentang nasab laki-laki yang mengaku menjadi nabi itu lalu kamu menjawab bahwa dia keturunan orang-orang terhormat, memang begitulah para rasul selalu diutus dari nasab yang mulia. Aku tanyakan kepadamu, ‘Apakah ada orang lain sebelum dia yang mengaku menjadi nabi?’, lalu kamu menjawab, ‘Tidak ada’. Kalau ada orang lain sebelum dia mengaku menjadi nabi, maka dia hanya meniru ucapan orang lain tersebut. Aku tanyakan kepadamu, ‘Apakah ada sala seorang nenek moyangnya yang menjadi raja?’, lalu kamu menjawab, ‘Tidak ada’. Kalau ada salah seorang nenek moyangnya yang menjadi raja berarti dia menuntut kembali kerajaan nenek moyangnya.
Aku bertanya kepadamu, ‘Apakah kamu pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan bahwa dia seorang nabi?’, lalu kamu menjawab, ‘Tidak’. Aku yakin bahwa dia yang tidak pernah berkata dusta kepada semua orang itu tidak akan berdusta tentang Allah. Aku bertanya kepadamu, ‘Apakah pengikutnya orang-orang bangsawan ataukah rakyat biasa?’, lalu kamu menjawab, ‘Rakyat biasa’. Memang pengikut para rasul itu kebanyakan rakyat biasa. Aku bertanya, ‘Apakah pengikutnya terus bertambah atau berkurang?’, lalu kamu menjawab, ‘Terus bertambah’, memang demikianlah iman yang benar kalau sudah mantap.
Aku bertanya kepadamu, ‘Apakah ada salah seorang pengikutnya yang keluar karena tidak senang setelah memeluk agamanya?’, lalu kamu menjawab, ‘Tidak ada’. Memang begitulah iman kalau sudah meresap kedalam hati. Aku bertanya kepadamu, ‘Apakah dia pernah menginkari janji?’, lalu kamu menjawab, ‘Tidak pernah’. Memang para rasul tidak ada yang ingkar janji. Aku bertanya kepadamu, ‘Apa yang dia serukan kepadamu?’, lalu kamu menjawab, ‘Bahwa dia menyeru kamu menyembah Allah satu-satun-Nya tanpa kamu sekutukan sesuatu dengan-Nya dan dia melarang kamu menyembah berhala, menyuruh kamu mengerjakan sholat, berkata dan berlaku jujur, serta menjaga kesucian diri’. Jika apa yang kau katakan itu benar, maka tidak lama lagi dia akan menduduki tempat kedua kakiku ini. Aku tahu (dari kitab Injil) bahwa wilayah kekuasaannya akan meluas. Tapi aku tidak yakin kalau dia berasal dari kaummu. Seandainya aku tahu aku bahwa bisa bertemu dengannya tentu aku akan segera menemuinya. Kalau kau berada disisinya tentu akan aku basuh kedua kakinya’. Kata Abu Sufyan: “Setelah itu Heraclius meminta surat yang dikirimkan Rasulullah Saw. melalui Dihyah kepada gubernur Bushra. Kemudian surat tersebut diserahkan kepadanya dan dibacanya, yang isinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, ditujukan kepada Heraclius, penguasa Byzantium. Kedamaian bagi orang yang mengikuti jalan kebenaran. Selanjutnya aku mengajak anda dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, maka anda akan selamat lalu Allah akan memberi anda pahala dua kali lpat, tetapi jika anda menolak seruan masuk Islam ini, maka anda akan menanggung dosa kaum Arisiyyin. Aku tuliskan di dalam surah ini firman Allah Swt. (yang artinya): “Hai ahli kitab! Marilah kita bersatu dalam kata yang sama antara kami dengan kalian bahwa kita tidak menyembah selain Allah, dan bahwa kita tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, serta sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai sesembahan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah, ‘Saksikanlah bahwa kami orang-orang yang berserah diri kepada Allah”. {Al-Quran, surah Ali Imran ayat 64}. Kata Abu Sufyan, ‘Begitu Heraclius selesai berbicara dan membaca surat itu, ruangan pertemuan tersebut menjadu gaduh dan suara-suara keraspun bersahutan sehingga kami disuruh keluar’. Saya katakan kepada teman-teman saya, ‘Sungguh hebat putra Abu Kabsyah (julukan yang diberikan oleh Abu Sufyan untuk memperolok Nabi Saw.), sehingga dia ditakuti oleh raja Bani Ashfar dan saya selalu percaya bahwa dia akan menjadi penakluk, sehingga akhirnya Allah membuatku menjadi pemeluk Islam.3


catatan kaki:
2. Maksudnya adalah Nabi Muhammad Saw.
3. Abu Sufyan ketika itu belum masuk Islam. Dia masuk Islam ketika penaklukan Mekkah (yaum al-fath), yang kemudian menjadi mertua Nabi Saw.


sumber: RINGKASAN HADIS SHAHIH AL-BUKHARI disusun oleh Imam Az-Zabidi - Pustaka Amani

Kitab Tentang Permulaan Turunnya Wahyu Kepada Rasulullah Saw. | Bagian 2

Baca Sebelumnya (Bagian 1)

4. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshariy r.a. mengenai terhentinya wahyu untuk sementara waktu. Jabir menuturkan hadits Nabi Saw.: “Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, kemudian aku mendongakkan kepalaku ke atas, tiba-tiba ada malaikat yang mendatangiku di gua Hira duduk di atas kursi antara langit dan bumi, sehingga aku takut, lalu aku pulang, kemudian aku katakan kepada keluargaku, “Selimutilah aku!” Kemudian Allah Swt. menurunkan ayat-ayat berikut (yang artinya), ‘Hai orang-orang yang berselimut! bangunlah dan sampaikanlah peringatan! Tuhanmu, agungkanlah!,  pakaianmu, bersihkanlah! Dan segla yang keji, tinggalkanlah!’. (Al-Quran, surah Al-Muddatsir ayat 1-5). Setelah itu wahyu sering turun silih berganti.

5. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. tentang firman Allah Swt. dalam surah Al-Qiyamah, ayat 16. Kata Ibnu Abbas r.a.: “Semula Rasulullah Saw. ingin segera menirukan wahyu yang ditirukan kata demi kata karena khawatir tidak bisa menghapalnya, dan beliau menggerakkan kedua bibirnya”. Kata Ibnu Abbas: “Aku menggerakkan kedua bibirku sebagaimana Rasulullah Saw. menggerakkan kedua bibirnya. Kata Ibnu Abbas: Aku menggerakkan kedua bibirku sebagaimana Rasulullah Saw. menggerakkan kedua bibirnya, lalu Allah Swt. menurunkan ayat (yang artinya): “Janganlah kamu gerakkan lidahmu hai Muhammad karena hendak cepat-cepat menguasai bacaan Al-Quran! Sesungguhnya tanggungan Kami-lah untuk menghimpunnya dalam dadamu dan memberimu kemampuan untuk membaca-nya”, (Al-Quran, surah Al-Qiyamah:16-17). Kata Ibnu Abbas, ‘Allah akan menghimpun Al-Quran di dalam dada Nabi Saw. Dan memberi beliau kemampuan untu membacanya’. “Maka apabila Kami telah membacakannya kepadamu (melalui Jibril) ikutilah pembacaannya!” (Al-Quran, surah Al-Qiyamah: 18). Kata Ibnu Abbas r.a., ‘Maksudnya: dengarkanlah dulu dan diamlah!, “Kemudian Kami-lah yang akan membuatmu bisa membacanya. Setelah ayat-ayat itu diterima oleh Nabi Saw., maka apabila beliau di datangi oleh Jibril, beliau mendengarkannya, kemudian setelah Jibril pergi Nabi Saw. menirukan bacaan Jibril tersebut’

6. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a., dia berkata: “Rasulullah Saw. adalah orang yang paling dermawan. Puncak kemurahan hati beliau adalah pada bulan Ramadhan, ketika beliau ditemui oleh Jibril a.s. Jibril menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Quran dengan beliau. Sungguh kemurahan hati Rasulullah Saw. melebihi kemurahan angin yang diutus untuk menurunkan hujan.

 Baca Selanjutnya (Bagian 3 habis)

sumber: RINGKASAN HADIS SHAHIH AL-BUKHARI disusun oleh Imam Az-Zabidi - Pustaka Amani

Kitab Tentang Permulaan Turunnya Wahyu Kepada Rasulullah Saw. | Bagian 1

Bab 1: Bagaimana mula-mula wahyu diturunkan kepada Rasulullah Saw.


1. Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab r.a., dia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatannya. Barangsiapa berhijrah dengan niat untuk kepentingan duniawi atau untuk mencari perempuan yang akan dikawininya, maka balasan hijrah sesuai dengan niatnya.”

2.  Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Al-Harits bin Hisyam pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah! Bagaimana sampainya wahyu kepada kepada Anda?” Rasulullah Saw. menjawab, “kadang-kadang wahyu diturunkan kepadaku seperti bunyi lonceng dan inilah yang aku rasakan paling berat, kemudian bunyi lonceng tersebut menghilang setelah aku menghapal wahyu yang diturunkan itu. Kadang-kadang malaiakat (Jibril) mendatangiku dengan bewujud seorang laki-laki, lalu dia menyampaikan wahyu kepadaku, kemudian aku menghapal apa yang disampaikannya”.kata Aisyah r.a.: “Saya pernah melihat Rasulullah Saw. Ketika beliau sedang menerima wahyu pada hari yang sangat dingin, keringat beliau bertetesan dari dahi beliau seusai menerima wahyu.”

3.  Diriwayatkan dari Aisyah, Ummul mukinin r.a., dia berkata: Awal mula wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. berupa mimpi yang benar. Ketika itu Rasulullah Saw. mendapatkan mimpi yang benar seterang cahaya pagi, kemudian beliau senang berkhalwat1. Beliau berkhalwat di gua Hira untuk beribadah selama beberapa malam sebelum beliau kembali kepada keluarganya. Rasulullah Saw. membawa perbekalan makanan untuk berkhalwat lalu beliau pulang menemui Khadijah untuk mengambil perbekalan lagi, sehingga ketika berada di gua Hira, beliau tiba-tiba mendapat wahyu. Beliau didatangi malaikat yang mengatakan “Bacalah!” Rasulullah Saw. menjawab “Aku tidak bisa membaca” kata Rasulullah Saw.: “Lalu malaikat memelukku keras-keras sehingga nafasku terasa sesak,kemudian dia melepaskanku, lalu dia katakan lagi, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca”. Dia memelukku lagi (kedua kalinya) dengan keras sehingga nafasku terasa sesak, lalu dia melepaskanku, kemudian dia katakan lagi. “Bacalah! “Aku tidak bisa membaca”. Dia memelukku lagi (ketiga kalinya) dengan keras sehingga nafasku terasa sesak, lalu dia melepaskanku, kemudian dia membacakan, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Pemurah”, (Al-Quran Surah Al-Alaq: 1 – 3). Kemudian Rasulullah Saw. Pulang membawa wahyu dengan penuh ketakutan. Beliau menemui Khadijah binti Khuwaylid r.a. kata beliau, “Selimutilah aku! Selimutilah aku!” Maka keluarga Nabi Saw. menyelimuti beliau sehingga rasa takut beliau hilang. Beliau menceritakan kepada Khadijah yang telah beliau alami. Kata beliau, “Aku takut akan terjadi sesuatu kepada diriku”. Khadijah menjawab, “Demi Allah, tidak akan terjadi apa-apa. Allah tidak akan membuatmu hina, karena engkau selelu menyambung sanak kerabat, menolong fakir miskin, menghormati tamu dan membantu orang-orang yang tertimpa musibah.
Khadijah mengajak Nabi Saw. pergi untuk menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, sepupu Khadijah. Waraqah adalah orang yang beragama Nasrani pada masa jahiliyah dan pernah menulis kitab Injil dalam bahasa Ibrani sebanyak yang dikendaki Allah. Ketika itu Waraqah sudah tua dan buta. Kata Khadijah, “Hai sepupuku! dengarlah kata sepupumu (Muhammad) ini!” Waraqah bertanya kepada Nabi Saw., “Hai sepupuku apa yang kau alami?” Rasulullah Saw. menuturkan kepada Waraqah apa yang telah beliau alami, lalu Waraqah mengatakan kepada beliau, “Dia itu An-Namus (Jibril) yang telah diutus oleh Allah kepada Nabi Musa. Betapa seandainya aku masih muda dan masih hidup ketika nanti kaummu mengusirmu!” Rasulullah Saw. Bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya. Tidak ada laki-laki yang menyampaikan wahyu seperti yang kau bawa ini melainkan akan dimusuhi. Seandainya aku masih hidup ketika nanti kau diusir niscaya aku akan membelamu dengan segenap kemampuanku”. Tidak lama kemudian Waraqah wafat dan wahyu pun tidak turun dalam beberapa waktu.


Baca Selanjutnya (Bagian 2)

sumber: RINGKASAN HADIS SHAHIH AL-BUKHARI disusun oleh Imam Az-Zabidi - Pustaka Amani